Rabu, November 26, 2014

REALITA OUTSOURCHING DI NEGARA TERCINTA

Akhirnya semua mulai terlihat, perbedaan kini mulai muncul kepermukaan. Sadar bahwa sebagai seorang karyawan kontrak saya tidak bisa meminta lebih. Yaaah, nasib sebagai seorang karyawan kontrak tidak hanya saya yang mengalami, banyak yang bernasib sama. Penuh dengan perbedaan yang dibuat oleh manusia, hak-hak yang tidak diberikan selayaknya padahal mungkin kewajiban yang diberikan kepada  perusahaan lebih besar dibandingkan karyawan tetap. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berharap suatu saat karyawan kontrak atau istilah ngetren sekarang OUTSOURCHING hilang dari muka bumi ini....hahahahaha.
  

Dulu, yang namanya karyawan kontrak paling hanya 3 bulan atau paling lama setahun baru setelahnya diangkat menjadi karyawan tetap tapi sekarang seumur-umur menjadi karyawan kontrak. Sungguh realita yang sangat menyedihkan, bayangkan di era digital yang berkembang dengan pesatnya, justru realita outsourching ini membuat suatu negara mundur. Bagaimana konsep kesejahteraan masyarakat menurut Pemerintah??


Yang dilihat oleh pemerintah hanya para pelakon bisnis yang mampu memberikan kesejahteraan bagi kantong mereka sendiri. Yang kaya makin kaya yang miskin makin BELANGSAK, sungguh realita yang sangat memprihatinkan. Setelah bekerja disebuah perusahaan yang menganut sistem OUTSOURCHING ini akhirnya jelas terlihat bahwa pemerintah tidak serius menangani tentang kesejahteraan RAKYAT. Bagaimana bisa mensejahteraan rakyat kalau kita setiap tahun harus cari kerjaan baru karena dari perusahaan lama kita tidak diperpanjang. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencari pekerjaan, bagaimana kalau mereka merupakan tulang punggung keluarga. Apakah mereka masih bisa makan 3x sehari, tunggu...jangankan 3x sehari, sehari sekalipun sepertinya sulit.


 Apakah pemerintah tahu hal tersebut??


Apakah pemerintah tau kalau kami para pekerja OURSOURCHING dibedakan dalam hal apapun??


Thin9







Tidak ada komentar: