Minggu, Januari 22, 2017

Kisahku -hati

Hari itu aku menerima sebuah pesan, pesan rekomendasi seorang ikhwan berusia jauh dariku sedang mencari istri. Air mataku menetes, perih sekali jawaban yang aku terima, setelah menunggu 10 hari bukan jawaban maaf atau penyemangat untukku. Tapi sebuah pesan bahwa aku harus melupakannya. Dari awal sebenarnya aku sudah ragu untuk menyampaikannya, aku sadar itu. Dua kali ditolak seharusnya membuatku sadar dan tak lagi berharap, aku tak berdaya dengan hati kecilku yang ingin terus berharap. Kali ini sama dengan 2 penolakan sebelumnya, tidak dengan jawaban yang jelas, hanya tersirat, mungkin itu yang membuat hati kecil ini terus berharap.

Aku selalu merasa tidak sempurna dengan apa yang aku miliki, selalu tidak bersyukur atas segala yang diberikan, selalu mengeluh dengan kondisi yang aku ciptakan sendiri. Aku seakan lupa bahwa segala nikmat yang kudapat mungkin tidak didapat orang lain. Segala kebaikan yang aku rasakan mungkin adalah yang orang lain dambakan. Segala yang aku capai dengan mudah mungkin butuh pengorbanan bagi orang lain.

Alhamdulillah, akhirnya aku tersadar dari mimpi panjangku, mimpi indah yang pahit karena tidak menjadi kenyataan. Tapi saat ini, kenapa yang aku inginkan adalah kenyatan buruk yang manis. Buruk karena tak sesuai dengan mimpiku, tapi manis dirasakan karena itulah yang terbaik yang Dia berikan.

Aku sebenarnya tak terlalu bermasalah dengan perbedaan umur yang jauh, tapi setelah dipikir kembali, harusnya aku juga tidak gegabah untuk menentukan seperti dipaksakan. Sejujurnya akupun masih bingung apakah keputusan itu baik dengan membatasi kriteria umur. Aku hanya tak ingin menjadi terlalu pemilih untuk sesuatu yang tidak menjamin untuk surgaku, selama orang tersebut sholeh dan menerima aku apa adanya. Sampai detik ini aku pun masih bingung dan belum menemukan jawaban yang pasti.

Aku sepertinya akan berhenti untuk mengejar, aku ingin menunggu walaupun aku sadar saat ini usiaku sudah cukup matang untuk menikah, tapi aku tak mau menjadikan hal tersebut beban untuk hidupku, salahkah? Aku tak ingin keterburuanku menjadikan aku salah melangkah atau salah memilih bahkan menjadi gelap mata hanya untuk hal tersebut.

Bukan ingin menunda, aku hanya tak ingin terlalu sedih dalam proses penantian ini. Bukan pula aku terlalu memilih, karena memang tidak ada yang bisa aku pilih. Bukan pula menolak, karena tak ada yang bisa aku tolak. Sampai saat ini tak ada seorangpun yang berminat untuk meminangku.

Aku takut memikirkannya, kenapa sampai saat ini tak ada yang datang, sebegitu buruk kah aku? Astagfirullah, itu yang aku takutkan, aku takut untuk berpikir kemungkinan-kemungkinan yang membuat aku berpaling akan kuasa-Nya, membuatku ragu akan karunia-Nya, membuat aku menutup mata akan rahasia-Nya yang indah.

Aku akan berusaha menyakinkan hati kecil ini untuk tidak berkecil hati menghadapinya. Mencoba berhuznudzon akan rencana-Nya, berat.

Ragu ku harap kau pergi
Khawatir menghilanglah
Yakin kuatkan lah

Waktu akan menjawab semua itu, kuharap tahun ini, manis itu akan datang melenyapkan pahit yang kurasa.
Walaupun bukan akhir cerita, kuharap itu adalah awal kehidupan baruku menjadi wanita yang didambakan semua wanita dibumi ini.
Walaupun aku belum siap, kuyakin ia akan membantu ku melaluinya
Walaupun aku belum sempurna, kuyakin ia akan melengkapinya

Karena bersatu bukan untuk melemahkan, tapi untuk menguatkan satu sisi lainnya


*thin220117

Tidak ada komentar: